Tuesday, July 30, 2019

MAHASISWA yang MAHABODOH

halooo apa kabar?
gimana skripsinya, aman? udah sampe bab berapa? kapan lulus? habis  lulus mau ngapain?
selamat berjuang buat mahasiswa tua, yakinlah semua akan indah pada waktunya. berdoa itu penting, cuma kalo engga mulai nulis ya engga selesai-selesai juga lur.
Semangat hehehe

salah satu mahasiswa yang mahabodoh


Ditengah kemageran nulis skripsi, aku pengen nulis sesuatu di blog ini.
ntah namanya cerita atau sebuah kegalauan, atau apalah. cuma sekiranya bagus buat dibagi bersama, siapa tau ada yang ngalami sama atau pernah memikirkan yang sama juga.

Pernah engga si kamu ngebayangin ketika kamu kecil, lahir ke bumi ini dari rahim seorang ibu yang sangat mencintai kita, keluarga yang sangat kita rindukan saat ini mungkin dengan tanpa apapun kecuali tubuh ini. Sedikit demi sedikit kita belajar, ngomong, jalan, sampe bisa naik sepeda. dulu aku bisa naik sepeda udah ngerasa keren banget deh, semua orang aku balap di jalan pake sepeda kecilku.

Ketika SD muali ni banyak lagi pelajarannya, ada yang bisa dan ada yang engga masuk-masuk ke otak. Mulai ngerasa dan menanyakan ke diri sendiri dan lingkungan. aku ini bodoh apa pintar ya? Habis itu ngerjain UN yang dulu si menyeramkan hehehe, ehhhh ternyata kita bisa lulu dan nilainya bagus-bagus. Habis itu kita ngerasa kita pinter banget bisa ngelewatin masa SD apalagi kalo lulusnya dapet penghargaan nilai tertinggi atau sejenisnya yang pasti makin buat kita terbang tinggi.

Habis itu kita mulai sadar, ketika masuk SMP. banyak hal yang harus kita mulai dari awal lagi. dan merasa bodoh lagi, karena ada pelajaran-pelajaran baru yang kita musti pelajarin. Terus mulai deh tanya lagi ke diri sendiri. aku ini pinter apa bodoh ya? karena mungkin ketika itu banyak tantangan yang kita hadapin. ehhhh tapi ternyata engga kerasa kita akhirnya juga bisa lulus dari SMP, dapet penghargaan lagi-lagi. Siapa siii yang engga bangga. Orang tua pasti selalu bilang "anak mama papa pinter banget siii" :D

SMA makin semangat buat belajar, ada juga yang makin kendor. nanti ngegas pas udah kelas 3 SMA persiapan masuk kampus. nah ini semuanya berlomba-lomba jadi yang nomer 1 untuk bisa masuk ke PTN Favorit dan terbaik di Indonesia bahkan luar negeri. Engga pernah disangka dan terbayangkan Allah menjawab lagi doa kita. Kita berhasil lulus dari SMA yang katanya "masa terindah selama sekolah, di masa putih abu-abu" dengan atau tanpa hambatan yang engga kita sadari sudah berlalu. Masuk ke Kampus favorit dengan jurusan yang mungkin kita masih engga tau akan berlajar apa dan jadi apa setelah ini.

 Ehhh namanya juga takdir, di awal kuliah ngerasa kebanggaan selama sekolah di SD, SMP, SMA kok engga berasa ya. Disini ketemu temen-temen yang luar biasa pinter dari berbagai penjuru Indonesia dan kita ngerasa bukan siapa-siapa. harus belajar lebih giat lagi buat nyeimbangin dinamika kuliah.

Syukur alhamdulillah, engga disangka sekarang kita udah mau lulus dari bangku kuliah. IPK sesuai yang kita dan orangtua pengen, prestasi di kampus juga bisa dibilang cukup bersinar. Punya banyak temen, literasi buku bacaan juga menumpuk. Apakah sekarang saatnya kita berani bilang kalo kita udah pintar? nama kita akan bertambah gelar loo, hasil dari jeripayah kita kuliah selama ini. Kalo namanya ada gelarnya kan keliatan kalo kita orang pinter, berpendidikan, dan punya kelas sosial yang lebih tinggi dari mereka yang biasa-biasa aja, apa lagi engga kuliah.

Yakin?
Pernah mikir gitu?
Ngerasa lebih baik, lebih pintar, lebih layak dihargai, lebih segala hal dari orang lain?

Pesanku: Tetaplah jadi mahasiswa  manusia yang mahabodoh.

Buat apa segala yang telah kamu pelajari dan yang telah kamu dapatkan kalo cuma untuk menjadikan sombong. Jadikan itu semua hal yang bermanfaat ya, karena ada yang bilang, ilmu yang paling baik itu ilmu yang bermanfaat, dan bisa buat kita takut kepada Allah.

"tetap kosongkan gelasmu, dan bersiaplah menerima pelajaran dari apapun, siapapun, dimanapun, dan kapanpun."


#mahasiswamahabodoh

Tuesday, July 16, 2019

Zona nyaman

Sering banget engga si kita denger istilah ini "Zona nyaman",
kalo kata motivator-motivator katanya kita harus keluar dari zona nyaman kita supaya bisa mendobrak batasan-batasan, dan menjadikan diri kita lebih baik karena selalu merasa tertantang.
Coba kita renungkan sebenernya kita sekarang sedang ada dimana dan butuhkan zona nyaman itu?

Malam indah di bawah langit Ternate

Kalau aku bertanya dimana zona nyamanku? aku jug bingung ternyata jawabnya. Karena banyak yang bisa buat aku nyaman, Keluarga, sahabat, teman, pokoknya banyak. Dimanapun aku selalu mencoba untuk merasa nyaman (buktinya bisa tidur dimana aja wkwk, agak kebo sii).
Cuma ketika merefleksi ke pengalaman hidup, mungkin aku sedikit bisa menemukan jawabannya. Dimana aku selalu berusaha mencoba hal-hal aneh yang baru, nyeleneh, dan sebisa mungkin engga instan deh. Dari situ aku banyak belajar, karena mau atau engga ketika kita pingin sesuatu yang aneh dan mungkin bukan pilihan yang populis. Kita butuh effort yang besar dan mental yang keras untuk mewujudkannya.

Ketika lulus dari SMA aku mendapat kesempatan untuk mendapatkan beasiswa full untuk kuliah. Tapi hati ini memilih untuk berjuang sendiri, karena bagiku, menulis sejarah hidupku sendiri terasa kurang menarik untuk aku dapatkan mimpiku semudah itu. Alhamdulillah dengan penuh perjuangan dan pengorbanan sedikit demi sedikit mimpiku juga bisa terwujud.

Saat ini, ketika ingin mengakhiri masa kuliah juga aku membuat keputusan-keputusan yang mungkin juga engga populis banget dah. Dimana mahasiswa sekarang mungkin kebanyakan pengen banget cumlaude dan seccepet mungkin selesai dengan segala hal dan lulus. Karena paradigma sekarang lulus cepet dan cumlaude itu berarti kamu pinter dan keren. Sempet si dulu kepikiran gitu, seiring berjalannya kaki ini, bertemu orang-orang dengan keputusan-keputusan gila, langkah-langkah yang tegas, dan mimpi-mimpi yang engga terbayangkan olehku. Membuat aku bertanya, pantaskah kamu lulus dengan gini aja za?

Jadi merenung lagi, jadi selama kuliah ini udah bermanfaat apa? dan akan buat apa?
Tuhan selalu menjawab doaku dan mewujudkan mimpi-mimpiku selama ini. Masih ngerasa puas kah ? mau selama gitu aja, diberi kebahagiaan orang lain untuk bisa memuaskan mimpi-mimpi dan angan-angan mu za?

Kalau dulu quotes yang bagus dan memotivasi juga,

" Ada banyak anak-anak sepantaranmu yang tidak bisa melanjutkan dari SD ke SMP, dan kamu salah satu yang beruntung bisa mendapatkannya. Ada banyak anak-anak sepantaranmu yang tidak bisa melanjutkan dari SMP ke SMa, dan kamu salah satu yang beruntung bisa mendapatkannya. Ada banyak anak-anak sepantaranmu yang tidak bisa melanjutkan dari SMA ke bangku KULIAH, dan kamu salah satu yang beruntung bisa mendapatkannya. Jadi setelah ini, masihkah kamu harus bersaing dengan mereka yang kurang beruntung untuk urusan pekerjaan dan kehidupan? "

Betapa harus malunya kamu za. Kamu selama ini selalu beruntung hingga sekarang. Dan setelah kamu mendapatkan mimpi-mimpimu kamu masih harus bersaing dengan mereka yang mimpinya pun tidak seberuntung kamu. Jadi apa setelah kuliah ini waktunya buat kamu membantu mewujudkan mimpi-mimpi mereka?

#Renungan mahasiswa akhir

Wednesday, June 19, 2019

Titip Rindu Buat Ayah #HariAyah


Cover Ebit G Ade - Titip rindu Buat Ayah

Sebuah lagu yang sering di setel bapak, maknanya dalam dan mungkin cocok buat hari Ayah. Engga bisa nulis apa-apa tentang beliau, karena seluruh hidupku belajar banyak darinya. Terimakasih pak, atas segalanya yang udah dilakukan buat keluarga. Semoga terus bersama hingga ke Surga aamiin.

Titip Rindu Buat Ayah
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah
Keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meski napasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Monday, June 17, 2019

Indofood Leadership Camp 3 & 4 - Kertasarie Estate

Berkumpul lagi bersama KSE BISMA X Nusantara di Kertasarie Estate, Jawa Barat. Salah satu anak perusahaan dari Indofood penghasil teh. Disini dingin banget, rekor suhu sampe 11 derajat brrrr, dingin banget dah. Disini kami ber 38, hasil seleksi dari Camp 2 yang berjumlah 72 orang. Bedanya dari camp sebelumnya, engga ada lagi officer disini, yang menyusun konsep pun dari kami sendiri. Hanya ada fasilitator dari kakak-kakak yang membantu kami dalam menjalankan rencana pelatihan yang telah kami buat bersama.

Coaching Karir Bersama HRD Indofood
Mengingat lagi kenangan satu tahun lalu, baru bisa nulis sekarang hahaha. Jadi ini salah satu camp terakhir kami bersama BISMA X, karena pada tahun ini camp 3, 4 dan 5 dijadikan satu rangkaian. walalupun dari konten tetap dibedakan. kalau engga salah camp 3 itu berorientasi pada pembekalan karir, camp 4 berorientasi project sosial, dan camp 5 adalah seminar nasional.

Foto Reza pas lagi mau izin ketoilet :D

Brave enough to Dream?

Olahraga jadi makin kaku, dingin cuy

Sarapan di tengah kebun teh

Penjelasan budidaya teh hijau dari pembibitan sampai panen

Factory Visit 1 - Kertasarie Estate

Kebun  kentang petani mitra Indofood Fritolay

Bermain sama adek-adek TK

Edukasi Kesehatan Adik - adik SD

Push up bareng, kapan lagi?

BISMA BATCH X

Sunday, June 16, 2019

Senyuman kecil miliknya #Mudik


Foto saat di kereta keluar dari pelabuhan Merak. Aku duduk berhadapan sama eni untuk bercerita banyak hal.

Alhamdulillah kita telah berhasil melewati perjuangan melawan hawa nafsu selama sebulan penuh. Semoga kita selalu diberi hidayah dan kemudahan untuk terus meningkatkan ibadah kita, aamiin

Jadi gimana mudiknya kali ini?
Seru kan pastinya?
Setiap dari kita pasti punya cerita mudiknya masing-masing, dan aku yakin itu hal yang harus kita syukuri. Walalupun cuma di rumah juga, engga mudik dsb, juga harus disyukuri yakk hehe

Alhamdulillah, kemarin masih diberi kesempatan buat mudik, balik ke Lampung sekitar 12 hari. Adaa hal yang pengen aku ceritain di momen lebaran dan musim mudik kali ini yang menurutku sangat mengetuk hati kecilku untuk terus mengucap syukur, akan hadirnya keluarga walalupun terkadang engga bisa terus bersama.

Lebaran kali ini, keluarga lengkap. Mas Alim, Eris, Danish, Mamak, Bapak. Semua bisa ngumpul, lumayan lama, sekitar seminggu lah. Biasanya si bapak yang cuma libur beberapa hari gara-gara harus kerja, atau mas alim yang juga harus kerja. tapi momen lebaran ini kita bisa kumpul semua yeeayy :D Rumah jadi rame kata mamak-bapak.

Dibalik kebahagiaan yang aku dapetin ternyata momen lebaran kemarin ada suatu hal yang aku belajar banyak dari 'dia' gadis kecil yang berumur sama dengan adekku. Sebut saja namanya 'eni', Saudara sepupu cucu dari adiknya mbah. umurnya sekarang berarti sekitar 15 tahun. Waktu kecil kedua orang tuanya harus berpisah, sampai kelas empat SD Eni tinggal bersama Ibunya di Lampung, lalu melanjutkan tinggal bersama Ayahnya di Jakarta sampai sekarang. Lebaran kemarin, merupakan momen yang paling dia idam-idamkan. Setelah hampir tujuh tahun diabelum pernah kembali lagi ke Lampung untuk memeluk ibu kandungnya, pada tahun ini dia bisa bersama berasama ibu, adik, teman masa kecil, dan keluarga besar dari ibunya di Lampung. Terlihat sekali wajahnya ceria ketika dia cerita.

Mengawali obrolan kita dengan cerita-cerita kecil dan pertanyaaan ku engga jarang cuma di jawab singkat bahkan sebuah senyuman kecil aja, hehehe tapi gpp lah, aku kayanya masih asing juga buat dia, baru juga kenal. Kecilnya si aku inget dia gimana, cuma pasti dia engg inget aku.

Aku mencoba mengajak berbincang lebih dalam lagi, karena banyak hal yang aku penasaran dari eni. Dia hanya diam, dan bicara seperlunya ketika aku tanya. pokoknya aku kepoin banget karena aku penasaran sama dia.

R: Eni kemarin kemana aja sebulan liburan di kampung?
E: Engga kemana-kemana mas, cuma dirumah ibu aja
R: Engga kesawah? seru lo wkwk. Masih ada temen kecil engga di Lampung?
E: Masih mas, kemarin main sama si Eka terus disana. Cuma dia yang masih inget hehe
R: Kamu sebenernya lebih suka di kota apa di desa?
E: Eni sebenernnya lebih suka di desa mas.

(ketika dia jawab itu aku baru kepikiran, kok bisa. Biasanya yang udah ngerasain kota jarang ni ngerasa betah di desa, apalagi kampung kita di lampung itu masih yang kampung banget lahh)

R: Eni tinggal dimana emangnya di Jakarta?
E: Di daerah .......... *rahasia
R: ooo Jakarta Barat ya, (3 bulan di jakarta sedikit tau lah daerah-daerah situ hehehe). Tinggal sama siapa aja disana?
E: Sama paman mas.
R: Engga sama Ayah?
E: Engga mas, Ayah tinggal sama ibu
R: Emang Paman ada siapa aja disana?
E: Ada paman, bibi, sama anaknya 6 masih kecil-kecil semua mas.
R: ooo, seru dong bisa main sama adek-adek rame setiap hari hehehe. Udah main kemana aja di Jakarta?
E: .....kemana aja ya mas hehe, jarang main aku mas.
R: Sama temen-temen?
E: engga pernah main sama temen-temen mas. Eni engga ada HP juga jadi susah komunikasi

(Mulai merasa ada yang salah ketika dia cerita gitu)
Dari raut wajahnya aku mulai sedikit paham gimana sebenernya perasaanya dia ketika harus pulang ke Jakarta sekarang. Ada keinginan yang sebenernya dia pengen, tapi dia engga kuasa untuk menentukan pilihannya.

Setelah itu aku ajak ngobrol lebih mendalam, tentang keluarganya di Jakarta, kondisi lingkungannya, cita-cita, hobi, dan banyak hal yang personal tentang dirinya. Alhamdulillah dia mulai terbuka dan cerita banyak hal juga. Aku coba rangkum aja biar engga kepanjangan hehe

Jadi Eni ini sebenernya nyaman untuk tinggal bareng Ibunya di Lampung. Dia cerita kalo di Jakarta dia itu masak sendiri kalo mau mau makan, beli sendiri juga. Tinggal engga sama Bapaknya karena ada Ibu baru dan anak ibunya di rumah. Jadi dia ikut pamannya. Dia Introvert banget, jarang punya temen, selain  engga punya alat komunikasi, selain itu ada keterbatasan-keterbatasan dirinya juga yang membuat dia engga bisa kaya anak lainnya yang bebas bermain di usianya. Udah hampir 7 tahun dia engga ngeliat wajah ibunya, bahkan ketika kangen ibu, dia bilang kalo di bolehin telpon dan dipinjemin HP baru dia bisa hubungin Ibunya di Lampung. Kemarin dia bisa pulang juga karena sakit satu minggu, terus dia alesan kangen ibu. Akhirnya dia dicarikan ibunya Travel untuk pulang ke Lampung. Dia jarang keluar rumah, main pun paling jauh ke Monas, dan itu Jalan kaki. Bisa kira-kira mungkin dari daerah dia sampe monas itu 5km lebih dan dia jalan, sendirian, cuma buat merenung katanya.

Aku ngerasain benget dari cerita dia sepanjang perjalanan, dia punya rasa yang terpendam akan kehadiran keluarga. Sesekali di perjalanan kita ketemu keluarga yang sedang bersama-sama lengkap. Dia memandanginya, matanya engga bisa bohong kalau dia pengen banget kumpul kaya keluarga itu. Ayah, Ibu, Eni, dan adiknya. Wajahnya polos, lugu, tapi hatinya baik. Dia bilang kalo yang maksa dia disini Ayah, tapi dia engga mau ngelawan ayahnya. Dia bener-bener anak yang penurut. Sampai aku ajakin dia buat main tapi dia kelihatan ragu-ragu.

Dia bercita-cita jadi seorang dokter, aamiin semoga bisa terwujud ya En. Dia hobi nulis juga, ternyata selama ini dia nulis diary untuk mengungkapkan perasaannya, kondisinya, kegelisahannya, dan pemikirannya. Aku bersyukur banget masih ada kegiatan positif yang jadi wadah buat dia melampiaskan isi hatinya.

Pertemuan aku sama dia, mengajarkan aku banyak hal. gimana aku masih kurang bersyukur selama ini dan juga bekal untuk membangun keluarga kedapan. Engga bisa di anggep sepele/remeh soal keluarga mah. Apalagi aku laki-laki yang jadi imam dikeluarga nanti, besar atau kecil keputusan yang akan diambil nanti ada istri dan anak yang mengikuti. Dari situ aku juga makin kagum dengan sosok Bapak ku :)

Buat temen-temen yang mungkin keluarganya saat ini masih lengkap, ayok kita bersyukur dan maksimalkan waktu kita untuk menghangatkan keluarga kita.
Buat temen-temen yang keluarganya saat ini sedang ada cobaan, bersabarlah dan jangan berhanti berdoa ya, semoga Allah lekas memberikan jalan terbaiknya. Percayalah kalo Allah punya rencana terbaik buat kamu dan keluarga.
Buat kamu yang lagi jauh merantau, jangan lupa kasih kabar selalu dan terus doakan semoga keluarga kita bisa selalu diberi perlindungan Allah ya,

"Keluarga: Tempat kamu memulai segalanya, dan akan selalu menjadi tempat yang paling nyaman untuk kembali"

Reza Adinata
16 Juni 2019

Thursday, May 23, 2019

Belajar dari Demonstrasi 21-22 Mei di Jakarta

10:12 AM 0

Pesta politik tahun ini untuk pertama kalinya saya banyak mengikuti update perkembanggannya mulai dari awal hingga hari ini, 23 Mei 2019. Ternyata menarik juga untuk mengikuti jalan ceritanya, memandangnya dari banyak sisi dan bukan sebagai pendukung fanatik salah satu paslon. Kadang-kadang mungkin kalo sebagai salah satu pendukung paslon fanatik kita akan cenderung buta dan tuli untuk melihat dari banyak sisi dan cenderung membenarkan yang kita jagokan.

Selain itu tahun ini juga saya meraksakkan gejolak politik Indonesia langsung dikandangnya (Jakarta) jadi lebih terasa sensasinya. Biasanya temen disuksi soal begianian sama-sama liat dari jauh lewat tv, dan media aja. Tapi saat ini bisa liat langsung atmosfernya di Jakarta. hihihi

Pengen menulis apa yang aku pelajari dari aksi demonstrasi yang cukup "seru" bisa di bilang yang terjadi di Jakarta kemarin. karena dari situ saya belajar banyak, bukan hanya dari kejadiannya, tapi dari situ saya terus mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan baru kepada diri saya untuk mencari jawabannya melalui informasi apapun. Jadi banyak nontonin youtube, bacain berita, update sosmed dsb yang bikin isu ini makin menarik untuk di bahas dan didiskusikan.

Pertama, saya belajar kalau istilah "politikus" dan "negarawan" memang itu terdengar engga jauh beda tapi memang tak sama. Berawal dari pertemuan Pak Jokowi dan Mas Ganjar yang mengusulkan perubahan pola pikir masyarakat kalau Indonesia butuh Negarawan bukan lagi politikus membuat saya bertanya, emang apa bedanya? Dari demonstrasi kemarin saya melihat, ketika situasi seperti itu manakah beda politikus dan negarawan. Belajar dari timeline Line sesaat setelah Gusdur dilengserkan dan memberikan pidato mengenai turunnya dia dari kursi kepresidenan. Beliau mengatakan bahwa "kekuasaan ini (Presiden) tidak ada artinya dibandingkan darah bahkan nyawa umatku". Masing-masing dari kita tentunya memiliki ambisi, akan tetapi Negarawan ambisinya bukan sekadar "JABATAN" tapi lebih dari itu. Karena banyak cara untuk dapat berpengaruh dan bermanfaat bukan hanya memanfaatkan jabatan.

Kedua, Apakah "prasangka baik" diperlukan dalam bernegara? Selama ini saya banyak melihat dan berdiskusi juga dengan teman-teman mengenai banyak hal. dimana kebanyakan dari oposisi pemerintah selalu saja mengangkat keburukan dan curiga dengan segala hal yang dilakukan pemerintah (bukan hanya presiden ya, di level manapun oposisi cenderung begitu), mulai dari isu-isu yang berbobot sampe isu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan di goreng di berbagai media untuk menjatuhkan kredibilitas dan kepercayaan publik kepada pemerintah. Apakah mungkin tanpa menjelek-jelekan politik kita dapat berjalan juga? Saya rasa bisa, banyak juga kajian-kajian dari NGO dan individu yang sempat saya baca yang mengulas persaingan pemilu dengan lugas dan bijak. Bukan hanya menggoreng isu-isu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Membut saya belajar satu hal, bahwa apa yang kita kejar boleh dengan niat yang baik, tapi caranya apakah sudah baik? boleh kita berpandangan bahwa politik bisa menghalalkan segala cara, tapi saya memilih untuk tidak. Mengkritik hal yang baik untuk menjaga koridor pemerintah dalam haluan yang tepat, tapi perlu diingat tujuan kita sama untuk membangun, bukan meruntuhkan atau memecah belah Indonesia. Salah satu yang menginspirasi saya adalah Cak Nun, dimana dia memilih untuk tidak lagi berada di lingkaran pemerintah dan memilih hidup dengan rakyat kecil dan mendidik rakyat kecil dengan akhlak yang baik sehingga bangsa ini dapat berjaya dikemudian hari. sama sekali tidak memiliki ambisi politik, tetap menjadi kritikus pemerintah, tatapi tetap aksi nyata membangun Indonesia.

Ketiga, "Istilah guru kecing berdiri, murid kencing berlari" ternyata nyata telihat. Gimana masa selama ini yang "berbasis islam" sangat digaungkan salah satu kubu. Seolah-olah menggiring opini bahwa umat Islam harus memilih beliau karena pada Ulama (guru/panutan/tokoh agama) yang berpengaruh di Indonesia mendukungnya. Apa yang terjadi? Engga sedikit teman dekat yang ketika ada deklarasi dukungan Ulama dan Kyai-kyai langsung berubah haluan dan ikut mendukung paslon tersebut ( tentunya ada pertimbangan lain). Fenomena apa yang saya amati, bahwa tanggung jawab guru  untuk mendidik itu engga bisa di bantahkan lagi. lalu pertanyaannya mendidik yang seperti apa? Apakah kita harus menjadi seperti guru kita? berbeda pandangan dan sikap apakah itu juga wajar? saya menjawab, kembali lagi kepada kita masing-masing. karena kita yang memilih dan menentukan. Saya memilih untuk mempertimbangkan segalanya, membaca informasi lebih dalam, dan menentukan sikap untuk tetap berpandangan Indonesia butuh KITA. Dimana setiap tindakan yang akan kita ambil akan diikuti banyak orang, maka dari itu harus bijak dan tepat untuk memilih tindakan. Sehingga dapat berdampak positif bukan hanya untuk diri kita tapi untuk semua.


Monday, May 20, 2019

Buat yang Tumbuh, Baru, dan Dewasa

19 Mei 2019,
sebuah catatan kecil dihari itu yang perlu aku buat untuk merefleksikan diri sekali lagi. Sebuah pertanyaan kecil untuk diri sendiri dan hati nurani. Apakah sudah pantas kamu di usia baru ini? udah buat apa aja usia sebelumnya?
 

 Buat kamu yang ber umur 22 selamat tumbuh menjadi dewasa, diusia ini mungkin kamu akan mulai merasakan bingung atau bahasa kerennya 'quarter life crisis' jalani aja dengan baik. karena yakinlah semua itu akan berlalu, dan masing-masing dari kita akan punya jalan hidup masing-masing.  Mungkin sesekali belajar dari pengalaman hidup seseorang untuk melalui hal tersebut, tapi jangan terpaku sama satu cara melewatinya. Ku yakin kamu punya banyak cara, kreativitas dan keunikan yang perlu kamu curahkan dalam perjalanan hidupmu dan menulis sendiri sejarah hidupmu.

Seringkali kita 'mencontek' pengalaman hidup sukses orang lain dan kamu ingin banget seperti dia. Tapi kita lupa, bahwa setiap dari kita punya lembar soal yang berbeda-beda. Tuhan ingin kita menjadi pribadi terbaik versi kita, bukan versi si A, B, atau C.

Buat kamu juga, mungkin udah merasa bahwa tanggung jawabmu sekarang bukan lagi kepada dirimu. Mulai merasa keluargamu juga tanggung jawabmu, orang tuamu, adik-kakakmu, dan saudara saudaramu. Bahkan kadang kamu juga merasa kalau orang-orang disekitarmu juga bagian dari tanggung jawabmu, terlebih lagi permasalahan negara bahkan dunia juga bagian dari tanggung jawabmu. Apakah semua itu benar? dan aku harus bertanggung jawab atas segala hal?

ya boleh aja, kamu boleh berfikir tanggung jawab yang ada dipundakmu begitu besar. Tapi jangan lupa untuk juga menikmati hidupmu. Bahwa setiap tanggung jawab yang kamu rasa saat ini terkadang bukan hanya bisa dimaknai sebagai beban. Tapi juga nikmat, yang mungkin engga bisa setiap orang merasa kebesaran hati sepertimu sekarang. Meskipun belum bisa berbuat apa-apa tapi yakinlah dan buktikan lah bahwa suatu hari nanti kita harus bisa berguna untuk siapapun disekitar kita.

Urusan cinta, jodoh, pendamping? udah ada? hihihi udah mulai banyak ya yang tanya-tanya soal ini. ya mungkin emang udah sewajarnya diusiamu sekarang untuk mulai bertanya soal ini. Tapi tenang aja, kayaknya si engga perlu dipikir berat, engga perlu dijawab semua pertanyaan tentang itu juga. Cukup senyum jadi jawaban. Inshaallah udah adah ada kok, tapi engga tau dimana dan kapan waktunya kalian bertemu. Yakin aja, dan perbaikin diri terus untuk bisa jadi yang terbaik di depan pendamping hidupmu nanti ya. Engga usah banyak iri sama sekitar yang udah mulai nunjukin kemesraannya, sabar aja.
  
Kejar mimpimu dulu ya, perbaiki dirimu, dan terus dekatkan dirimu kepada-Nya.
Apa yang akan kamu dapatkan nanti pasti bergantung apa yang kamu yakini dan perjuangkan selama ini. Karena aku tau kamu akan jadi seseorang yang bermanfaat, aamiin
Reza Adinata. Powered by Blogger.